Entah bagaimana Allah mengarahkan hingga saya menemukan rumah baru yang saya tempati saat ini. Rumah baru saya, sangat sederhana. Hanya sepetak. Terdiri dari kasur, lemari, dan meja belajar. Jangankan ada selimut dan bantal, kasur diseprei pun sudah alhamdulillah. Karena memang di rumah baru saya berniat untuk bekerja, bukan tidur seperti di rumah lama.
Ternyata, rumah baru saya begitu sepi. Suasananya syahdu. Suara jangkrik pun ga terdengar. Jam 21.00 teng, lampu-lampu tetangga saya sudah mati. Tinggalah saya sendiri di rumah baru saya itu. Agak canggung. Saya rebahkan badan di kasur kapuk yang agak keras. Masih sepi. Lama saya memandangi langit-langit kamar yanng bersih, hingga pikiran saya jadi ngawur entah kemana. Ada sedih, ada takut, gelisah, dsb.
Istighfar ! saya segera istighfar. Di rumah baru ini bukan untuk membuang waktu. Segera saya ambil hp untuk mengabarkan keluarga dan beberapa teman akan keberadaan saya sekarang. Namun lagi-lagi saya terkejut. Kedua Hp saya ga ada sinyal sebatang pun. Saya kocok-kocok hape tersebut berkali-kali, tapi nihil. Tetap tak ada sinyal. Saya buka jendela kamar saya, saya arahkan Hp ke luar kamar, tetap tak ada sinyal.
Sepi.
Baru beberapa jam di rumah baru, tiba-tiba saya kangen akan suasana rumah lama. Suara ibu saya yang pasti sedang bercanda dengan cucunya. Ayah yang kadang sedang bermain gitar atau piano. Diskusi kecil keluarga sambil melahap cecemilan malam. Suara adik laki-laki saya yang sedang bertengkar dengan saya karena berebutan memakai internet, dsb. Ya.. disana ramai, tidak seperti disini : SEPI
Lalu, apa yang membuat saya ada disini sekarang..??
Tentunya ini tak lain adalah rencana Allah. Ketika saya melewati sebuah rumah sederhana, tampak di terasnya beberapa anak sedang bermain dengan bapak-bapak yang ia panggil Abi. Mereka tampak begitu antusias memasang sebuah papan di tembok terasnya. Sebuah papan bertuliskan : ALLAH MENCINTAI ANAK-ANAK YANG BERPUASA, yang ditulis dengan cat berwarna-warni.
Dan saat itulah tanpa sengaja saya menyapa sang bapak, “Terima kosan, Pak..?”
Anak-anak soleh itu menyambut saya dan membukakan pagar. “Abi.. masih ada kamar kosong kan ya..?” katanya manis, dan mempersilahkan saya masuk.
Keluarga tersebut sederhana. Rumahnya pun seadanya. Saya tidak terlalu memperhatikan, karena saya terlanjur terpaku pada satu lemari di sudut ruang tamu yang berisikan buku-buku agama tebal. Sepaket buku Sayyid sabiq, sepaket buku Ibnu Katsir, kitab shahihain, dsb. Entah kenapa, saya selalu senang melihat kitab-kitab terjejer rapi di lemari.
Saya juga tertegun ketika tak sengaja mengintip ruang tengah keluarga tersebut. Atapnya terhias dengan kertas warna-warni, ada balon juga di sudut-sudutnya. Di dindingnya terpampang poster-poster tulisan warna-warni. Dan di tengahnya terpajang spanduk kecil, yang membuat mata saya senang membacanya berkali-kali :
“HOREE.. RAMADHAN DATANG LAGI..” begitu isi spanduknya, yang seakan membangunkan hati saya yang lama tertidur.
ramadhan datang lagi.. ??
Ya, ramadhan datang… Sebentar lagi. Ramadhan datang lagi…
Rupanya, keluarga ini sedang menyambut akan datangnya tamu istimewa itu. Seperti isi ceramah Pak ustad kemarin ini, bahwa dalam menyambut ramadhan pun perlu adanya persiapan keluarga. Untuk menyamakan ruh semangat dalam keluarga. Untuk sama-sama semangat menuju surga Ar-Rayyan Nya. Namun hal ini jarang kita lakukan,. Kita lebih memiliki ruh yang sama ketika menyambut lebaran ( yaitu dengan semangat yang sama berbelanja disana-sini, semangat berburu tiket mudik lebaran) dari pada menyambut kedatangan Ramadhan.
Lamunan saya buyar, ketika terdengar suara teriakan seorang anak kepada Abinya : “Abi.. sekarang hias kamar aku yuk.. sambut Ramadhan di kamar aku…Ayo bi.. AYO…..” begitu antusias.
Hingga membuat saya malu pada diri saya sendiri, yang masih nol mempersiapkan kedatangannya.
Rumah baru saya, memang sepi..
Tapi Insya Allah tak sepi dari malaikat-malaikatNya..
Depok, Penghujung malam
Filed under: 1



