Sudah tiga hari ini aku punya profesi baru. Yaitu sales. Menjajakan barang dagangan dari rumah ke rumah. Kadang aku suka berfikir sendiri kalo lagi dijalan, yup.. aku persis sekali dengan sales-sales yang suka menawarkan pekerjaan dari rumah ke rumah. Dulu, aku suka meremehkan mereka para sales tersebut. Selain waspada –khawatir mereka adalah penipuan-, aku juga malas sangat meladeni orangn-orang tersebut. Tapi lain dengan ayahku, ayahku yang super baik ini memang luar biasa. Sesibuk apapun mau meladeni celoteh para sales, bahkan kadang sampai membeli produk -padahal produk itu sama sekali tidak beliau gunakan.
‘dulu ayah juga seperti mereka.. ‘ jawabnya sambil tersenyum puas.kalo kami menanyakan sikapnya yang luar biasa oleh para sales tersebut.
Ayah suka bercerita tentang teori ‘per-sales-an’ *emang ada?:D yang katanya sering di luar logika. Banyak sales yang sudah berkeliling-keliling untuk mencari rizki, tapi kadang rizki itu justru datang dari pintu lain yang tak terduga-duga. Kata ayah, ini seperti kisah siti Hajar yang berkeliling bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari mata air. Namun ternyata air tersebut terpancar di lokasi yang dekat sekali dengan Ismail menangis. Amazing…
Sebagai orang yang meyakini Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi, konsep rejeki ini memang bukanlah hal yang aneh..
Dan tiga hari ini aku melakukan hal tersebut, pergi dari satu toko ke toko yang lain untuk menawarkan kerja sama. Ya, target awal memang mencari rezeki, namun ternyata selama tiga hari ini pula Allah memberiku –tidak sekedar- rezeki.
Berawal dari pura-pura sebagai pembeli, bertanya-tanya harga, bertanya dari mana supliernya, konsep kalo pingin mejadi agen, dsb… ini persis seperti main detektif-detektifan. Saat-saat seperti inilah semua indra harus berfungsi dengan baik. Karena dalam percakapan yang santai tersebut, ada ‘hal-hal’ penting yang harus digarisbawahi. Dengan berperan sebagai detektif seperti ini juga bisa memberikan informasi banyak tentang toko-toko lainnya…
”toko seperti ini masih jarang ya bu..jadi ibu belum ada saingannya “ *basabasidotcom
“oh sudah banyak.. di daerah sini saja udah ada sekita empat toko yang laris juga, seperti.. toko A, toko B, toko C, toko D, toko E..dsb..”
“menjualnya hal-hal kaya gini juga..”
“hampir sama sih, cuma tiap toko beda-beda kan.. kalo toko A dikenal buku-bukunya.. toko B dikenal jilbabnya.. toko C dikenal baju-bajunya.. “
Disinilah kejelian harus berfungsi, karena toko-toko yang beliau sebutkan tadi bisa menjadi target pasar selanjutnya
Sesekali si pemilik toko juga bercerita tentang proses kesuksesannya. Ya, profesi baru ku ini memang mengingatkan aku ketika menjadi wartawan dulu.
Ada seorang sahabat yang –katanya- iba melihat profesi baru ku ini.
Hm… belum tau dia, Allah memberiku berjuta nikmat dari semua ini ![]()
Filed under: Pena Bisnis | Tagged: dia



